Selasa, 16 Juli 2013

Ujian kah atau Pertanda kah?

" Tujuh bulan yang lalu, di tanggal yang sama, dua orang yang berbeda, yang tak saling mengenal, yang tak saling tau, berada dalam dua kota yang berbeda dan mengalami hal yang sama pentingnya. Salah satu dari mereka bertemu dengan seseorang yang akhirnya menjadi kekasihnya hingga hari ini, kekasih yang dianggap paling sempurna dari semua kekasih yang pernah dia miliki. Sedangkan satunya lagi, sedang melakukan prosesi sakral. Lamaran. Walau dengan hati yang gamang. Alasan "diam" menjadi kekuatannya untuk terus melangkah, meski keraguan kian memeluknya erat. Meski ketenangan semakin sulit didekati. Tapi apa yang seharusnya dia lakukan, tetap dilakukannya.

Sampai pada satu waktu. Keduanya berada dalam satu titik lelah yang membuat keduanya hanya mampu menarik nafas panjang. Membuangnya sembarang, hanya untuk mencari setitik ketenangan dan melakukan kewajiban sebagai manusia hidup. Bernafas. Dan semesta pun telah merencanakan hal lain, keduanya bertemu. Berbicara seakan sedang tidak dalam beban yang berat. 

Waktu mengaturnya sedemikian rupa. Mereka saling mendengar, saling bercerita. Tak terelakan, kalimat "seandainya" menggenangi basahnya hati keduanya. Andai keduanya bertemu lebih awal. Waktu tak akan pernah bisa di tawar, terus berjalan. Seakan semua yang didepan hanya kewajiban semata. Seakan hidup dengan menggunakan hati saat malam larut, saat keduanya memiliki waktu berdua, berbagi. Mendapat ketenangan. Merasa dihargai. Namun semua harus terhenti.

Terasa seperti dipermainkan oleh semesta. Pertanyaan menyesaki dada. Ujiankah atau pertandakah? Tapi kewajiban kian menghantui. Hati perlahan meninggalkan diri. Perjalanan diteruskan dengan kosong. Tak seperti dulu yang penus terisi dan berapi api. Pedih." (Kutipan : Sekali lagi)

Hanya Allah yang tau maksud dari semuanya. Namun pilihan-NYA akan selalu dimudahkan oleh-NYA.

Jumat, 24 Mei 2013

di hatiku

Setiap yang pergi membutuhkan tempat kembali
Demikian cinta membutuhkan tempat

Setiap jiwa yang bernafas tak akan pernah mati oleh rasa
Demikian cinta menjadi milik setiap jiwa

Setiap yang terluka membutuhkan waktu
Demikian cinta memberi rasa perih

Selembut bahasa alam cinta hadir
Sebanyak rasa yang ada dia memberi cerita

Seperti gemercik air, seperti selembut desau angin, seperti serpihan cahaya
Dia datang dari berbagai arah

Mereka bilang harus dikatakan
Biar cinta mempunyai tempat

Tapi tempat ku di sini
Bukan menunggu
Bukan pula hanya berharap
Tapi aku tau, tempatnya kembali adalah di sini

Minggu, 19 Mei 2013

Lelah atau sabar kah?

Apa kata lelah bisa di sandingkan dengan sabar? Jika sudah sangat lelah kemudian diam apa ini namanya sabar? Atau sudah tidak peduli lagi?

Lelah sering datang bersamaan dengan permintaan akan hal yang berat untuk dilakukan. Bisa dibilang paksaan. Menyiksa sekali melakukan sesuatu tanpa hati. Apapun itu hasilnya akan jauh di bawah maksimal.

Lelah kemudian tidak melakukan apa-apa. Diam dan hilang peduli.

Maka jangan biarkan egomu melahirkan "lelah" bagi dia yang menyayangi mu. 


Rabu, 15 Mei 2013

Selamat Datang Maharani :)

Labil. Mungkin itu yang pertama kali terlintas. Kemarin waktu lagi senangnya dengan blog, hampir setiap hari saya mem-posting tulisan. Tapi saya berhenti. Tidak tau pasti karena apa. Entah karena saat itu semua terasa indah, jadi cukup saya bagikan dengan senyum senyum sendiri karena sedang jatuh cinta, atau karena semua tampak gelap karena terluka akan kepercayaan dan harapan sendiri. Justru sebaiknya untuk kedua hal tersebut saya terus menulis. Tapi saya berhenti, sibuk bercokol dengan pikiran sendiri.

Dua hari yang lalu saya menonton dorama Jepang, One Liter of Tears. Ya sebanarnya sudah dari beberapa tahun yang lalu, versi Indonesianya. Tapi ketika nemu versi Jepang, saat itu juga saya tonton. Aya, tokoh utama dalam cerita yang diangkat dari kisah nyata itu terus menerus menulis bahkan disaat menggerakan tangan saja sulit. Hingga akhirnya diary Aya dibukukan dan menjadi best seller.

Saya rindu sekali menulis saat itu. Rindu menghabiskan malam sendirian untuk menulis. Hahaha, meski banyak yang menilai tulisan saya sering tidak menyiratkan makna. Tapi waktu itu saya tetap menulis. Sering kali saya merindukan saya yang dulu. Entah kenapa seakan semua yang terjadi membawa perubahan sedikit demi sedikit untuk saya. Saya rindu mendapat kekuatan dari menulis. Mendapat ruang untuk diri saya sendiri. Saya rindu membagi mimpi mimpi saya. Saya rindu mendapat kepercayaan diri dari tulisan saya sendiri.

Saya membaca ulang sepintas blog ini. Hahahahaha, kadang memang terlalu "lebai" apa yang saya tulis. But I've done. :) Berhenti ini bukan cuma sekali. Tapi berkali-kali saya lakukan. Ini lah mungkin "labil" di diri saya itu. Tapi setiap kali berhenti, ingatan dan rasa rindu saya selalu dikembalikan. Meski  semakin lama semakin panjang waktunya. Saya bersyukur dikembalikan pada perasaan ini. 

Tidak ada ucapan selamat datang yang ingin saya ucapkan. Karena saya tidak mempunyai satu orangpun pembaca setiap dari blog saya. Saya ingin mengucapkan selamat datang keapda diri saya sendiri. Selamat datang dalam ruang yang hanya milik saya, dalam ruang kata-kata kepunyaan saya. Selamat datang lagi Maharani :)

Minggu, 04 November 2012

berdasarkan hasil tes sederhana, di ketahui bahwa saya pengguna otak kanan seara dominan. Lalu saya coba menelaah diri sendiri, benar saja. Saya spontan, bahkan terlalu spontan, saya memneci sesuatu yang berurutan, terlalu rapi. Saya menyukai cowok gonrong yang menggunakan baju warna hitam yang warnanya sudah pudar. Saya kreatif, saya merasa aman saat sedang terjepit, karena saya tau, di sana saya pasti akan berpikir keras aga saya tidak terjepit lagi. Saya benci memakaia pakaian yang matching. Dan lihat saja, tulisan saya tidak beraturan.

Ada banyak hal yang saya pikirkan, saya tanggung sendiri, kalau berbentuk pertanyaan saya jawab sendiri. Hingga larut malam, samapai kepala mau pecah atau mata sudah sangat bengkak, lalu besok pagi saya bangun seolah sudah tidak terjadi apa-apa, saya membuat malam terlalu melelahkan, agar tidak bertenaga lagi memikirkan yang semalam. Dan pada malam-malam berkitnya kadang sekelebat pemikiran itu sering datang. Mata saya seketika nanar, tidak tau harus berbuat apa.

Dan saat ini saya sampai pada hal yang benar-benar menentang idealisme saya. Menentang prinsip saya. Namun terbentuk oleh tuntutan. Terisak di balik guling, lalu diam mencar pemikiran lain, lalu bengong hingga tertidur. Saya sudah berada pada kondisi itu. Lebih jauh pada kondisi ingin pindah dari negri ini. Tapi tidak untuk mati. Saya tau saya harus berdiri. Namun karena merasa terlalu penuh kadang saya tak mempu lagi berpikir, step selanjutnya apa?

Saya butuh telinga, saya butuh suara. Sebelumnya saya sudah mengadu tentunya pada ALLAH MAHA BAIK. Saya butuh suara yang menandakan saya tidak sediri, yang mampu membanut saya berpikir, yang menghapus air mata yang melunturkan krim malam saya, saya butuh tangan lain juga untuk memegangi saya yang mulai gemetaran, takut karena kemarin tegak sendiri. Dia datang, dia tidak membenarkan, dia tidak menyalahkan saya, dia tidak mengambalikan masalah pada saya, dia membantu saya, dia memgangi saya, dia berada di dekat saya. Setelah berbagi dengannya saya merasa mendapatkan diri saya lagi. Diri saya yang kanan, yang harus menurunkan ego yang terlalu kuat, diri saya yang harus bertanggung jawab.

Pada awalnya saya ingin menanggung ini sendiri, ternyata lelah juga terus terisak pada guling yang diam. Pada dasarnya kedua tangan ini butuh genggaman tangan lain.

Dan masalah itu, suatu hari nanti, akan saya sampaikan pada semilir angin agar dunia mendengarnya, agar dunia belajar padanya, agar dunia membenci kebusukan. Agar tidak ada lagi yang merasa idealismenya di renggut paksa. Agar lahir banyak orang yang memiliki idealisme yang baik, kuat, positif dan tentu saja tertolong.

Selamat malam.

Rabu, 15 Agustus 2012

May I write what I pray?

Saya ingin menulis lantunan kata penuh pinta. Bukan untuk publikasi, tapi hanya bagian dalam menulis.

Ya Allah, hamba ini lemah menetapkan langkah hamba pada jalan yang lurus, maka kukuhkan selalu kaki hamba agar selalu cinta_MU tujuan ku.
Ya Allah, hati ini penuh harap untuk menjadi yang lebih lagi dari sekarang, kadang mengiba tidak bersyukur, maka peluk aku dalam lingkar rasa syukur, jauhkan segala hasut yang menjatuhkan
Ya Allah, hamba sering kali goyah, sering kali gusar lalu mengacuhkan setiap petunjukMU pada kebaikan, maka beri hamba dan bantu hamba untuk teguh.
Ya Allah, hamba sering dikungkung perasaan sombong dan lebih, maka ingatkan hamba selalu dan ampuni hamba akan sifat buruk ini Rabb.

Ya Allah, kadang hamba menangis di dalam tawa, melihat semua kebusukan yang normal dan dianggap biasa terjadi, tiada yang mampu hamba perbuat, maka untuk hidup hamba selanjutnya, beri hamba kekuatan, ketegaran untuk tidak melakukannya. Tetap berdiri kokoh pada jalan yang lurus.

Ya Allah, kadang hamba cemburu, akan kehidupan mereka yang begitu sempurna, wajah cantik, otak cerdas bukan main, suara indah, keluarga nan lembut. Kadang ada tanya dalam hati hamba, mengapa Kau berikan begitu saja pada dia Ya Allah?Tak sedikit saja untuk hamba dan yang kurang lainnya? Ampuni hamba ya Allah akan rasa tak bersyukur ini. Hamba tau engkau MahaAdil, selalu ada hikmah dalam setiap pemberian. Maka bantu hamba mengisi hidup ini untuk lebih dekat padaMU, jangan jauhi hamba ya Allah. Bantu hamba mengindahkan kehidupan yang telah Kau berika untuk hamba.

Ya Allah, kadang hamba sering terdiam atas kekosongan waktu yang melingkari hamba, penuh isi pemikiran, lalu diam hingga tiada arti. Bantu hamba ya Allah, mengisi setiap dektik waktu untuk hal yang berarti. Mulai detik ini. Hamba lemah dalam kekosongan ini. Hamba iri pada mereka yang penuh karya.

Banyak hal yang ingin hamba lakukan, banyak hal jua yang membentur langkah hamba hingga akhirnya berhenti yang hamba pilih, begitu lemahnya. Kuatkan aku ya Allah. Bantu diri ini usir lemah yang membuncah.

Ya Allah, ampuni hamba yang terus meminta, entah apa yang sudah hamba berikan pada-Mu, namun seperti selalu hamba yang meminta. Karena Engkaulah pemilih segalanya, engkau SangMaha, untuk itu hamba selalu meminta padamu, semua hal yang tak mampu hamba bagikan pada siapapun, hanya bisa hamba keluhkan padamu. Hamba yakin Engkau mendengar. Ampuni dan bantu hamba Ya Allah. Berikan cahaya-MU pada setiap langkah hamba dan langkah muslim muslimah lainnya.
Amin ya Allah.

Rabu, 11 Juli 2012

Surel Pembawa Luka

Membersihkan inbox di surel. Lalu menemukan satu surel yang sengaja tidak di hapus-hapus, Berisikan review semua yang ku lakukan semenjak mengenalnya. Berisikan kebencian, berisikan pandangan rendah tentang aku. Selalu menangis setelah membaca ulang. Entah untuk apa, masih ku simpan. Padahal apapun tentang penulis sudah ku hapus.  Terkadang rasa sakit yang diawetkan memang harus dibiarkan dalam pajangannya, untuk mengingatkan potongan hidup suatu hari.

Pada surel itu, sipenulis menuliskan pandangannya tentang perjalanan aku dari sisi nya. Dari pandangannya. Aku tak mampu menyalahakan dan membenarkan, hanya terluka setelah membacanya. Luka yang lahir dari ketidakmampuan menjelaskan semua. Dari ketidakmampuan memberikan pendapat appaun dari sisiku. Terlalu dominannya penulis untuk hidupku. Hingga pada sebuah surel pun, reaksi yang ada hanya luka.

Sipenulis , orang yang menurutnya aku khianati begitu saja karena kecintaan ku pada yang lebih baik, karena ingkarku pada sebuah janji. Menurutnya seperti itu. Karena dia tak mendengar alasan, karena dia tak merasakan yang ada di sini, di dalam aku. Terkadang aku merasa apakah semua ini semata tentangnya?Semenjak perjalanan hidup aku dengannya dimulai, semua ini hanya tentang kesalahanku. Si penulis, selalu benar, menurutnya juga menurut banyak pendengar. Iya, karena aku memang tak pernah bicara. Hilang kemampuan itu. Merasa kalah sebelum bersuara. Aku tak memiliki banyak alasan selain diri ku sendiri. Sementara dia meminta aku selalu membuka mata, membuka telinga, berjalan lebih jauh.

Penulis, juga banyak menulis tentang aku di blognya. Semua tentang sisi ku, negatif ku, yang melukainya. Jika luka yang selalu melekat pada ingatanmu, jika luka yang selalu terasa saat mengingatku, memang sudah sewajarnya kita tidak sama-sama lagi.

Diam memang tak selamanya emas. Malah untuk cerita ku hanya berbuah luka. Pandangan satu sisi yang keras, sulit lunak kembali. Bicaralah tentang apa yang terasa jika kau telah memilih menjalani hidup berdua. Dengarkanlah, mengertilah dan jangan selalu merasa benar sendiri jika dia, seseorang yang menemanimu menyampaikan rasanya, pendapatnya, pandangannya.