Pertama kali saya menyadari kehadiran kamu di kelas, saya tak berhenti memperhatikan kamu. Gerak gerik kamu, cara bicara dan berpakaian kamu bahkan saya menghapal wangi kamu. Biasanya seseorang akan refleks balik memperhatikan orang lain yang sedang memandangnya setiap saat. Sayangnya kamu tidak, kamu tak pernah melihat saya sedang memperhatikan kamu. Membuat saya semakin bebas dengan kesenangan baru saya.
Kesan saya pertama kali saat itu, kamu anak nakal yang senang mencoba hal-hal negatif. Khas cowok. Selalu senang hal-hal baru yang teman-teman mereka anggap seru. Tapi entah mengapa, saya meyakini satu hal, kamu sangat baik,lewat tatapanmu. Ah,perasaan macam apa ini. Padahal kita belum saling bicara. Keyakinan itu begitu kuat.
Tapi saya tak berani mendekati mu. Saya takut perasaan saya yang meyakini kebaikanmu, berkembang menjadi perasaan suka,kemudian sayang lalu cinta. Timbulah perasaan ingin memiliki dan harapan-harapan untuk kebersamaan kita. Ah, saya tidak siap untuk patah hati lagi dan lagi. Cukup lah saya bahagia dengan memperhatikan kamu.
Skenario semesta berbeda dengan skenario saya. Kita di pertemukan dalam sebuah obrolan yang menyeret perasaan saya semakin jauh. Kamu pun semakin mendekat. Saya tak mampu menolak. Tanpa sadar saya telah menikmatinya dan membiarkan hati saya semakin jatuh kepada kamu.
Malam itu, kamu mengungkapkan semua pengetahuan kamu tentang ku termasuk tentang aku yang sering memperhatikan aku. Ah malunya aku, tapi juga senang, kamu juga menjatuhkan hatimu pada saya. Perasaan kita seri!
Hingga hari seakan berlari, hubungan kita sudah berbilang bulan. Semua berjalan baik dan normal. Meski terkadang perbedaan menghantui saya,apakah ini semua hanya potobgan perjalanan hidup kita berdua? Dan akan berakhir begitu saja. Bisakah perasaan kita juga seperti itu?
Saya tak bisa meraba apa yang kamu rasakan tentang ini, karena pikiran saya tentang ini pun samar.
Tak ada kesimpulan.
Kita dua orang yanfg tak sibuk.memikirkan rencana hubungan ini. Kita dua orang yang sering gagal akan rencana, di jatuhkan oleh harapan. Lahirlah kapok dan memilih menjalaninya dengan sebaik-baiknya dulu. Mengutamakan hal yang memang lebih penting. Masa depan! Loh,bukan kah ini lebih baik? Lihat saja, kita semakin erat. Padahal ini semua juga karena kita tak bisa berkutik dengan perbedaan mendasar kita.
Pada akhirnya, semesta yang mempertemukan kita, semesta juga yang akan mengakhiri ini.
Published with Blogger-droid v2.0.6