berdasarkan hasil tes sederhana, di ketahui bahwa saya pengguna otak kanan seara dominan. Lalu saya coba menelaah diri sendiri, benar saja. Saya spontan, bahkan terlalu spontan, saya memneci sesuatu yang berurutan, terlalu rapi. Saya menyukai cowok gonrong yang menggunakan baju warna hitam yang warnanya sudah pudar. Saya kreatif, saya merasa aman saat sedang terjepit, karena saya tau, di sana saya pasti akan berpikir keras aga saya tidak terjepit lagi. Saya benci memakaia pakaian yang matching. Dan lihat saja, tulisan saya tidak beraturan.
Ada banyak hal yang saya pikirkan, saya tanggung sendiri, kalau berbentuk pertanyaan saya jawab sendiri. Hingga larut malam, samapai kepala mau pecah atau mata sudah sangat bengkak, lalu besok pagi saya bangun seolah sudah tidak terjadi apa-apa, saya membuat malam terlalu melelahkan, agar tidak bertenaga lagi memikirkan yang semalam. Dan pada malam-malam berkitnya kadang sekelebat pemikiran itu sering datang. Mata saya seketika nanar, tidak tau harus berbuat apa.
Dan saat ini saya sampai pada hal yang benar-benar menentang idealisme saya. Menentang prinsip saya. Namun terbentuk oleh tuntutan. Terisak di balik guling, lalu diam mencar pemikiran lain, lalu bengong hingga tertidur. Saya sudah berada pada kondisi itu. Lebih jauh pada kondisi ingin pindah dari negri ini. Tapi tidak untuk mati. Saya tau saya harus berdiri. Namun karena merasa terlalu penuh kadang saya tak mempu lagi berpikir, step selanjutnya apa?
Saya butuh telinga, saya butuh suara. Sebelumnya saya sudah mengadu tentunya pada ALLAH MAHA BAIK. Saya butuh suara yang menandakan saya tidak sediri, yang mampu membanut saya berpikir, yang menghapus air mata yang melunturkan krim malam saya, saya butuh tangan lain juga untuk memegangi saya yang mulai gemetaran, takut karena kemarin tegak sendiri. Dia datang, dia tidak membenarkan, dia tidak menyalahkan saya, dia tidak mengambalikan masalah pada saya, dia membantu saya, dia memgangi saya, dia berada di dekat saya. Setelah berbagi dengannya saya merasa mendapatkan diri saya lagi. Diri saya yang kanan, yang harus menurunkan ego yang terlalu kuat, diri saya yang harus bertanggung jawab.
Pada awalnya saya ingin menanggung ini sendiri, ternyata lelah juga terus terisak pada guling yang diam. Pada dasarnya kedua tangan ini butuh genggaman tangan lain.
Dan masalah itu, suatu hari nanti, akan saya sampaikan pada semilir angin agar dunia mendengarnya, agar dunia belajar padanya, agar dunia membenci kebusukan. Agar tidak ada lagi yang merasa idealismenya di renggut paksa. Agar lahir banyak orang yang memiliki idealisme yang baik, kuat, positif dan tentu saja tertolong.
Selamat malam.