" Tujuh bulan yang lalu, di tanggal yang sama, dua orang yang berbeda, yang tak saling mengenal, yang tak saling tau, berada dalam dua kota yang berbeda dan mengalami hal yang sama pentingnya. Salah satu dari mereka bertemu dengan seseorang yang akhirnya menjadi kekasihnya hingga hari ini, kekasih yang dianggap paling sempurna dari semua kekasih yang pernah dia miliki. Sedangkan satunya lagi, sedang melakukan prosesi sakral. Lamaran. Walau dengan hati yang gamang. Alasan "diam" menjadi kekuatannya untuk terus melangkah, meski keraguan kian memeluknya erat. Meski ketenangan semakin sulit didekati. Tapi apa yang seharusnya dia lakukan, tetap dilakukannya.
Sampai pada satu waktu. Keduanya berada dalam satu titik lelah yang membuat keduanya hanya mampu menarik nafas panjang. Membuangnya sembarang, hanya untuk mencari setitik ketenangan dan melakukan kewajiban sebagai manusia hidup. Bernafas. Dan semesta pun telah merencanakan hal lain, keduanya bertemu. Berbicara seakan sedang tidak dalam beban yang berat.
Waktu mengaturnya sedemikian rupa. Mereka saling mendengar, saling bercerita. Tak terelakan, kalimat "seandainya" menggenangi basahnya hati keduanya. Andai keduanya bertemu lebih awal. Waktu tak akan pernah bisa di tawar, terus berjalan. Seakan semua yang didepan hanya kewajiban semata. Seakan hidup dengan menggunakan hati saat malam larut, saat keduanya memiliki waktu berdua, berbagi. Mendapat ketenangan. Merasa dihargai. Namun semua harus terhenti.
Terasa seperti dipermainkan oleh semesta. Pertanyaan menyesaki dada. Ujiankah atau pertandakah? Tapi kewajiban kian menghantui. Hati perlahan meninggalkan diri. Perjalanan diteruskan dengan kosong. Tak seperti dulu yang penus terisi dan berapi api. Pedih." (Kutipan : Sekali lagi)
Hanya Allah yang tau maksud dari semuanya. Namun pilihan-NYA akan selalu dimudahkan oleh-NYA.