Membersihkan inbox di surel. Lalu menemukan satu surel yang sengaja tidak di hapus-hapus, Berisikan review semua yang ku lakukan semenjak mengenalnya. Berisikan kebencian, berisikan pandangan rendah tentang aku. Selalu menangis setelah membaca ulang. Entah untuk apa, masih ku simpan. Padahal apapun tentang penulis sudah ku hapus. Terkadang rasa sakit yang diawetkan memang harus dibiarkan dalam pajangannya, untuk mengingatkan potongan hidup suatu hari.
Pada surel itu, sipenulis menuliskan pandangannya tentang perjalanan aku dari sisi nya. Dari pandangannya. Aku tak mampu menyalahakan dan membenarkan, hanya terluka setelah membacanya. Luka yang lahir dari ketidakmampuan menjelaskan semua. Dari ketidakmampuan memberikan pendapat appaun dari sisiku. Terlalu dominannya penulis untuk hidupku. Hingga pada sebuah surel pun, reaksi yang ada hanya luka.
Sipenulis , orang yang menurutnya aku khianati begitu saja karena kecintaan ku pada yang lebih baik, karena ingkarku pada sebuah janji. Menurutnya seperti itu. Karena dia tak mendengar alasan, karena dia tak merasakan yang ada di sini, di dalam aku. Terkadang aku merasa apakah semua ini semata tentangnya?Semenjak perjalanan hidup aku dengannya dimulai, semua ini hanya tentang kesalahanku. Si penulis, selalu benar, menurutnya juga menurut banyak pendengar. Iya, karena aku memang tak pernah bicara. Hilang kemampuan itu. Merasa kalah sebelum bersuara. Aku tak memiliki banyak alasan selain diri ku sendiri. Sementara dia meminta aku selalu membuka mata, membuka telinga, berjalan lebih jauh.
Penulis, juga banyak menulis tentang aku di blognya. Semua tentang sisi ku, negatif ku, yang melukainya. Jika luka yang selalu melekat pada ingatanmu, jika luka yang selalu terasa saat mengingatku, memang sudah sewajarnya kita tidak sama-sama lagi.
Diam memang tak selamanya emas. Malah untuk cerita ku hanya berbuah luka. Pandangan satu sisi yang keras, sulit lunak kembali. Bicaralah tentang apa yang terasa jika kau telah memilih menjalani hidup berdua. Dengarkanlah, mengertilah dan jangan selalu merasa benar sendiri jika dia, seseorang yang menemanimu menyampaikan rasanya, pendapatnya, pandangannya.