Saya rindu sekali menulis. Terkadang saya lemparkan kerinduan ini pada kertas-kertas lusuh disekitar kamar, disekitar lantai kampus, lalu hilang begitu saja. Entah oleh angin, entah oleh sangkaan saya bahwa itu hanya sampah semata. Dan kali ini, saat jadwal saya mengerjakan tugas telah saya penuhi, kerinduan itu memasung lagi. Sekarang saya lepaskan lewat blog. Tidak peduli ada yang membaca atau tidak. Saya hanya ingin menulis.
Sering kali saya menulis terinspirasi dari lagu. Banyak sekali tulisan saya yang diadaptasi dari lagu. Ketika mendengar, saya rasakan, saya artikan semampu hati dan pikiran saya, lalu saya tuangkan. Dengan tabuangan kata-kata saya yang sering dibilang tidak jelas. Karena inikah tulisan saya hingga saat ini masih absurd? Kurang nyawa.
Sekarang saya sedang mendengarkan lagu berjudul perahu kertas yang dibawakan oleh Maudy Ayunda. Lagu yang mungkin sudah lama didengar banyak orang, hanya saja saya ketinggalan. Lagu ini berlirik sederhana (jika si pendengar membaca terlebih dahulu novel dengan judul yang sama). Saya merasakan sebuah pencarian cinta dari lagu ini, yang ternyata sahabatnya sendiri. Merasakan kebahagiaan dengan hadirnya seseorang yang dicintai. Yang menambatkan hatinya. Saya merasakannya.
Saya memang miskin tabungan kata, miskin pengertian tentang banyak puisi dari penulis terkenal. Tapi kali ini saya hanya ingin menulis sebuah....hmmm entahlah, entah ini pusi, sajak atau tulisan tanpa rasa dan arti. Nyawanya hanya saya sendiri yang rasakan. Biarlah...
Denting-denting ini, denting tentang janji hari esok, denting tentang kebenaran rasa, hanya terdengar saat malam, ketika aku sendiri. Hingga esok, saat aku membuka mata memulai hari lagi, denting ini berhenti berbunyi. Esok pun belum tentu ia berbunyi.
Tiada rindu, karena denting ini datang sebelum rindu menyergap. Tiada amarah karena denting ini hanya menghadirkan diam. Tiada tangis dan tawa karena denting ini hanya sekedar berbunyi, mengingatkan sebuah keajaiban.
Karena ini denting tentang janji hari esok, suatu hari nanti tak akan adalagi yang menghalangi denting ini terus berbunyi. Pasti akan terus menemani hingga terlelap setiap hari, hingga membuka mata pagi hari, melewati hari. Selamanya
Katakan pada senja, aku tak berhenti menulis ketika melihatnya
Katakan pada fajar, aku masih tersenyum lewat kata-kata saat dipeluknya
Katakan pada rembulan, besar aku masih terpejam lewat kata-kata saat disentuhnya
Katakan pada kelam bersanding bintang, aku masih meraupnya lewat kata-kata.
Dalam hati masih bersenandung
Bersenandung banyak kata
Kata dari mimpi
Mimpi yang ku pendam.
Dan tidak berhenti percaya dan menjadi diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar